Bantahan dan Klarifikasi soal Temuan Omicron di Bekasi

  • Bagikan
Omicron
Warga melintas di dekat mural bertema COVID-19 di Jakarta, Rabu (1/12/2021)

Kenali.co.id, BERITA NASIONAL Rabu kemarin, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Sri Enny Mainiarti yang mengatakan, empat warga DKI Jakarta terpapar varian B.1.1.529 atau Omicron berdasarkan hasil tes Covid-19 di Laboratorium Farmalab, Kabupaten Bekasi.

Pernyataan tersebut dimuat di laman resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi Bekasikab.go.id dan telah dikutip sejumlah media.

Belakangan, pernyataan Kadinkes Kabupaten Bekasi tersebut dibantah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Lembaga Eijkman pun ikut komentar.

Kemenkes-Eijkman

Pelaksanaan Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu membantah varian Omicron sudah terdeteksi di Kabupaten Bekasi.

Ia menuturkan, surveilans genomik yang rutin dilakukan Kemenkes belum mendeteksi adanya varian Omicron.

Surveilans genomik merupakan upaya pelacakan dan pemantauan genom virus corona untuk mencegah meluasnya penyebaran virus.

“Sampai saat ini belum ada, kami rutin melakukan surveilans genomik sekuensing belum ditemukan varian baru Omicron,” kata Maxi saat dikonfirmasi, Rabu.

Maxi menjelaskan, terkait empat warga DKI yang terinfeksi Varian Omicron berdasarkan hasil tes di Laboratorium Farmalab Cikarang, pihaknya sudah melakukan pengecekan bahwa laboratorium tersebut tidak bisa melakukan pemeriksaan sampel dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS).

“Laboratorium Farmalab tidak punya kemampuan genom sekuensing, hanya bisa di Litbangkes dan GSI Lab, saya sudah cek di litbangkes tidak ada pengiriman sampel dari Farmalab,” ujarnya.

Tak hanya itu, Maxi mengaku, sudah menghubungi Kadinkes Kabupaten Bekasi untuk mengkonfirmasi informasi tersebut.

Hasilnya, Kadinkes Kabupaten Bekasi membantah telah menyampaikan informasi tersebut

“Sudah berhasil dihubungi kepala dinas. Beliau sampaikan tidak pernah sampaikan seperti yang dinyatakan di media,” ucap dia

Senada dengan Kemenkes, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menegaskan, hingga Rabu sore, belum ada laboratorium yang melakukan Whole Genome Sequencing (WGS) melaporkan adanya varian B.1.1.529.

“Saya pastikan sampai saat ini belum ada laboratorium yang melaporkan adanya Omicron,” kata Amin saat dihubungi, Rabu.

Menurut Amin, para pakar bisa saja menduga varian Omicron mestinya sudah terdeteksi di Indonesia.

Namun, kata dia, masuknya Varian Omicron di Indonesia harus berdasarkan bukti ilmiah.

Selain itu, ia menjelaskan, metode S gene target failure (SGTF) dalam pemeriksaan tes PCR hanya sebagai skrining awal untuk mendeteksi varian Omicron.

Ia menegaskan, setiap varian baru virus Corona hanya bisa dikonfirmasi melalui Whole Genome Sequencing (WGS).

“PCR itu tujuannya untuk skiring awal tetap kalau itu (varian Omicron) harus dikonfirmasi dengan whole genome sequencing,” ucap dia.

Respons KSP

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Abraham Wirotomo mengatakan, empat orang yang terdeteksi positif Covid-19 di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi bukan terinfeksi varian Omicron.

Informasi tersebut diperolehnya berdasarkan penelusuran Dinas Kesehatan (Dinkes) Bekasi, keempat warga DKI itu terinfeksi varian Delta.

“Hasil penelusuran tim Dinkes Bekasi ke laboratorium yang melakukan testing menunjukkan, empat orang yang dinyatakan positif terpapar Covid-19 tersebut sebenarnya positif tertular varian Delta, bukan varian Omicron,” ucap Abraham dikutip dari siaran pers KSP, Rabu.

Abraham mengatakan, saat ini keempat orang itu telah dikarantina. Kemudian, tracing pada kontak erat keempatnya sudah dilakukan.

Ia juga melakukan klarifikasi informasi tentang empat warga tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Bekasi Sri Enny Mainiarti.

“Tidak ada bukti dan tidak ada statement apa pun dari saya bahwa varian Omicron sudah masuk Bekasi,” kata Abraham menirukan pernyataan Enny.

Oleh karena itu, Abraham menyatakan, informasi yang menyebutkan empat orang di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi terpapar Covid-19 varian Omicron tidak benar atau hoaks.

Laboratorium Farmalab tak bisa lakukan WGS

Laboratorium Farmalab Bekasi mengatakan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi terkai hal tersebut.

Sebab, Dinkes Bekasi yang berwenang untuk memberikan penjelasan terkait hal ini.

“Sampai saat ini masih koordinasi dengan pihak Dinkes Kabupaten Bekasi,” kata Koordinator Adminitrasi Farmalab Denis saat dihubungi, Rabu.

Meski demikian, Denis mengatakan, Farmalab tidak bisa melakukan pemeriksaan sampel dengan metode whole genome sequencing (WGS) untuk mengetahui seseorang terpapar jenis varian baru virus Corona.

“Untuk Farmalab sendiri sampai saat ini belum ada untuk (whole) genome (sequencing),” ujar dia.

Pemkab Bekasi akui kekeliruan

Tak lama setelah informasi mengenai varian omicron tersebut beredar dan dibantah Kemenkes, Pemkab Bekasi menarik informasi tersebut dari situs resminya karena terjadi kekeliruan informasi.

Kadinkes Kabupaten Bekasi Sri Enny menjelaskan, humas atau reporter dari Newsroom Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Kabupaten Bekasi salah mengutip pernyataannya saat rapat dengan para camat.

“Kemarin saya coba menjelaskan berita yang tentang dugaan warga Kabupaten Bekasi, bahwa yang positif tersebut bukan warga Kabupaten Bekasi, bukan juga yang positif Omicron. Itu warga Jakarta dan kejadiannya sudah lama, tanggal 23 November, sudah selesai karantinanya di Wisma Atlet Jakarta. Dan juga bukan Omicron,” kata Sri dalam keterangan resmi, Rabu.

Wakil Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bekasi Masrikoh juga memastikan bahwa varian Omicron belum terdeteksi di wilayahnya.

“Zero case (nol kasus), tidak ada temuan Omicron, saya pastikan,” ujar Masrikoh.

Masrikoh juga mengatakan, dari 42 kasus aktif Covid-19 di wilayahnya per hari ini, tidak ada varian Omicron. “Ada kesalahpahaman soal temuan kasus positif pekan lalu. Kebetulan pemeriksaan dilakukan di salah satu laboratorium wilayah kami dan itu juga belum dapat dipastikan varian baru. Infonya sedang diperiksa di Laboratorium Kesehatan Jawa Barat,” ungkap Masrikoh. (Dhea/Kenali.co.id)


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *