Bisnis Kuliner dengan Platform Online di Tengah PPKM

  • Bagikan

Kuali.co.id,-Berdasarkan data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), sepanjang tahun 2020 sebanyak 1.033 restoran resmi tutup secara permanen di Indonesia.

Ya, PPKM darurat yang diberlakukan mulai Juni 2021 memang memberikan dampak yang sangat signifikan bagi para pelaku bisnis di Indonesia, terutama bisnis kuliner.

Jika melihat kondisi industri kuliner ke periode sebelum pandemi, masih banyak yang menggantungkan transaksi harian dari dine-in.

Kalaupun sudah menggunakan pemesanan online, biasanya masih banyak yang hanya mengoptimalkan pemesanan eksklusif melalui WhatsApp atau media sosial.

Tentunya dibutuhkan adaptasi yang cepat dengan mengimplementasikan beragam solusi terkini, agar pelaku bisnis bisa mempertahankan usahanya.

Nah, langkah-langkah apa saja yang sebaiknya diambil? Berikut beberapa tips yang dirangkum oleh OttoPoint, dikutip Selasa (5/10/2021).

Peningkatan tren pemesanan online, mau tidak mau mempengaruhi penyesuaian strategi penjualan dan promosi yang berbeda dari beberapa tahun silam. Pertama, bisa secara perlahan mengembangkan frozen food.

Biayanya lebih efisien, makanan lebih tahan lama, selain itu dapat dijual lebih luas melalui e-commerce. Kedua, para pelaku bisnis sebaiknya mulai secara kreatif membuat konten promosi melalui media sosial seperti Instagram, Tiktok, Facebook dan lainnya.

Menurut We Are Social, dari 274,9 juta penduduk di Indonesia, sekitar 170 juta orang adalah pengguna aktif media sosial.

Kemudian, salah satu program yang patut untuk dipertimbangkan adalah stamp digital seperti OttoStamp.

James Hamdani, CEO OttoPoint, mengklaim platform besutannya memberikan pengalaman transaksi yang lebih berkesan bagi pelanggan. Jadi, mereka akan termotivasi datang kembali untuk bertransaksi dan mengumpulkan stamp digital, demi mendapatkan reward yang mereka sukai.

“Pelaku bisnis juga bisa mendapatkan keuntungan berupa implementasi program marketing yang fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan,” tuturnya.

Yang tak kalah penting, pelaku bisnis bisa mengumpulkan database pelanggan yang nantinya berguna untuk mengenal perilaku transaksi maupun preferensi mereka terhadap produk tertentu.

Database yang didapatkan dari program seperti OttoStamp berguna untuk lebih mengetahui kebiasaan pelanggan. Hal ini tentu berdampak positif untuk membuat strategi marketing yang efisien dan tepat sasaran.

Kinerja marketing akhirnya bisa diukur dengan lebih efektif juga, serta mencapai hasil yang lebih maksimal. Pelanggan pun lebih nyaman, karena mereka mendapatkan konten marketing yang sesuai dengan kebiasaan dan pilihan personalnya.

Dengan demikian, mereka tidak lagi merasa terganggu dengan konten atau iklan yang tidak relevan, dengan harapan mereka tertarik untuk bertransaksi kembali.(Riani/kenali.co.id)


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *