Bukan Lawan Tanding Sepadan untuk Rusia, Inilah Kekuatan Militer Ukraina dan 7 Arah Serangan Rusia

Rusia
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming dan Gubernur Jateng Ganjar di Rumkitlap Solo. (dimas/kenali.co.id)

Kenali.co.id, NASIONAL – Hingga saat ini mata dunia masih tertuju ke Ukraina. Meskipun sudah dibantah pihak Rusia berulang kali, kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina tengah dikhawatirkan dunia. Banyak negara mewaspadainya dan memprediksi kemungkinan yang bakal terjadi.

Dilansir dari intisari-online, baru-baru ini, Kementerian Pertahanan Inggris mengidentifikasi tujuh kemungkinan rute serangan Rusia terhadap Ukraina, karena AS dan NATO percaya bahwa risiko serangan Rusia tetap tinggi.

Sebuah peta yang menggambarkan kemungkinan 7 arah Rusia dalam menyerang Ukraina diposting oleh Kementerian Pertahanan Inggris.

Baca juga: Jadi Momok Bagi Para Penjahat, Inilah Sederet Anjing Pelacak yang Digunakan Polisi Indonesia

Gambar kemungkinan arah serangan Rusia tersebut diambil berdasarkan data satelit dan sumber intelijen, menurut surat kabar Inggris Sky News.

Disebut, Rusia dapat sepenuhnya menyerang ibukota Ukraina, Kiev, serta kota industri Dnipro.

Dalam rendering grafis, tiga arah serangan Rusia ke timur dan satu ke selatan dapat menargetkan kota Dnipro.

Setelah target tercapai, pasukan Rusia dapat bergerak lebih jauh ke barat, bertujuan untuk menguasai lebih banyak wilayah Ukraina, menurut Kementerian Pertahanan Inggris.

Di utara, tiga tentara Rusia secara bersamaan dapat menyerang ibukota Kiev, dengan dua sayap menjadi pasukan Rusia yang hadir di Belarus.

Berikut ini peta kemungkinan arah Rusia menyerang Ukraina menurut Kementerian Pertahanan Inggris:

Baca juga: Didukung Israel Plus NATO, Negara Ini Nekat Gempur Wilayah yang Didukung Rusia, Endingnya Memalukan

“Rusia mempertahankan kehadiran militer yang signifikan dan dapat meluncurkan serangan tanpa peringatan,” kata Kementerian Pertahanan Inggris dalam sebuah pernyataan.

“Di bawah ini adalah gambar yang menunjukkan kemungkinan arah serangan Rusia. Tetapi Moskow masih memiliki pilihan untuk mencegah konflik dan mengupayakan perdamaian,” kata kementerian itu.

Jika fase satu berjalan dengan baik, operasi fase dua dapat mencakup pasukan Rusia yang menyerang kota pelabuhan Odessa dan kota Vinnytsia di Ukraina barat.

Pada 17 Februari, Kementerian Pertahanan Inggris kembali membantah pengumuman penarikan pasukan Rusia.

“Rusia mengatakan bahwa sebagian dari pasukan ditarik ke pangkalan setelah latihan berakhir.

Baca juga: Gempur Sasaran Secara Akurat, Senyap dan Mematikan, Inilah Drone Kamikaze Zala Lancet Milik Rusia

“Kami tidak melihat tanda-tanda pasukan Rusia menarik diri dari daerah dekat Ukraina. Rusia masih bisa menyerang tanpa peringatan,” kata mereka.

Baca Juga :  Ada Mafia di Kementerian Perdagangan, Wamendag Membatanh

Presiden AS Joe Biden juga mengatakan pada 17 Februari bahwa risiko “Rusia menyerang Ukraina tetap tinggi, berdasarkan intelijen”.

Juga pada 17 Februari, Menteri Luar Negeri Rusia Dmitry Peskov mengatakan bahwa mereka akan terus menarik beberapa pasukan yang telah menyelesaikan tugas mereka dari perbatasan Ukraina.

“Ini adalah proses yang panjang. Ini akan memakan waktu lama,” kata Peskov.

Ia menambahkan bahwa Rusia tidak memperhatikan keraguan Barat tentang rencananya untuk menarik pasukannya dari perbatasan Ukraina.

Kekuatan Militer Ukraina

Angkatan bersenjata Ukraina kalah jumlah dan kalah senjata dari Rusia, bagaimana Kiev melindungi diri jika perang pecah?

Berikut ini paparan kekuatan militer Ukraina pada 2022 menurut “Global Fire Power” (GFP): Untuk tahun 2022, Ukraina berada di peringkat 22 dari 140 negara yang dipertimbangkan untuk tinjauan tahunan GFP.

-Pasukan militer aktif: 200.000

-Pasukan cadangan: 250.000

-Artileri: 2.040

-Kendaraan lapis baja: 12.303

-Tank: 2.596

-Helikopter serang: 34

-Pesawat militer: 98

Pada 2020, Ukraina menghabiskan 5,9 miliar dollar AS untuk militernya atau 8,8 persen dari pengeluaran pemerintah menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI).

Sebagai perbandingan, pada saat yang sama, Rusia menghabiskan 61,7 miliar dollar AS untuk militernya atau sekitar 11,4 persen dari pengeluaran pemerintah.

Dilansir Al Jazeera pada Selasa (25/2/2022), Moskwa telah mengerahkan senjata dalam jarak serang dari Ukraina, termasuk sistem rudal balistik jarak pendek Iskander, sistem peluncuran roket, tank tempur dan artileri yang ditarik.

Sejumlah negara telah mengirimkan peralatan militer ke Ukraina, termasuk rudal anti-tank Javelin dari Estonia dan rudal anti-pesawat Stinger dari Latvia dan Lithuania.

Kiev juga menggunakan drone Bayraktar buatan Turki untuk pengintaian.

Ukraina juga menerima pengiriman senjata kedua dari AS sebagai bagian dari paket pertahanan senilai 200 juta dollar AS (Rp 2,8 triliun), yang disetujui oleh Presiden Joe Biden pada Desember.

Negara-negara yang Pasok senjata untuk Ukraina

Dilansir dari dw.com, hampir setiap hari, Menteri Pertahanan Ukraina Oleksiy Resnikov memposting gambar-gambar baru di akun Twitter-nya, yang menunjukkan pesawat-pesawat angkut besar yang dijejali dengan peti-peti yang besar.

Isinya adalah senjata dan amunisi yang dikirim terutama dari Amerika Serikat dan Inggris ke Ukraina.

Baca Juga :  Real Madrid dan Inter Bersaing, Sheriff Melorot

Senjata-senjata itu terutama untuk memperkuat sistem pertahanan Ukraina untuk menangkis serangan pasukan Rusia, yang sejak berhari-hari menumpuk di perbatasan dengan persenjataan mutakhir.

Menurut pemerintah Ukraina, negara-negara Barat sudah memberikan bantuan peralatan militer senilai 1,5 miliar dolar.

Sebagai bagian dari latihan militer “Blizzard 2022” yang baru saja dimulai, banyak tentara Ukraina yang berlatih langsung di lapangan dengan senjata anti-tank mutakhir yang baru saja diterima.

Setelah diluncurkan dari bahu, sistem “api dan lupakan” tidak memerlukan panduan lebih lanjut.

Ukurannya yang kecil dan bobotnya yang ringan membuat senjata ini sangat mobile.

Javelin dan NLAW, rudal anti tank dari AS dan Inggris

Beberapa pesawat yang disambut sendiri oleh Menteri Pertahanan Oleksiy Resnikov mengangkut rudal jenis Javelin dan NLAW.

Sejak 2019, AS telah memberi Ukraina sistem peluncur dan rudal Javelin. Informasi tentang jumlah pastinya bervariasi, tetapi ratusan rudal kemungkinan telah dikirim ke Ukraina sejak akhir 2021.

Pemerintah AS juga telah memberikan izin kepada negara-negara Baltik untuk mentransfer rudal Javelin dari persediaan mereka ke Ukraina.

Javelin dianggap sebagai senjata anti tank paling canggih di dunia, karena dapat menyerang target seperti kendaraan lapis baja atau bunker dari jarak lebih dari 2.000 meter.

Javelin juga dapat menghancurkan tank berat dengan serangan atas ke atapnya, di mana perlindungan lapis baja paling sedikit.

Juga rudal Inggris NLAW berfungsi serupa, hanya daya jangkaunya lebih pendek. London baru-baru ini mengirim sekitar 2.000 rudal NLAW ke Ukraina.

“Sistem inilah yang paling kami butuhkan,” kata Mykola Bielieskov dari Institut Nasional untuk Studi Strategis di Kiev, sebuah lembaga yang memberi nasihat kepada Presiden Ukraina tentang masalah keamanan.

“Peralatan ini sangat mudah untuk diintegrasikan ke dalam persenjataan tentara kami dan tentara dapat belajar cara menembakkannya dengan sangat cepat,” kata Bielieskov kepada DW.

“Jika terjadi serangan Rusia, senjata-senjata ini akan sangat efektif. Itulah mengapa kami membutuhkan lebih banyak dari mereka.”

Stinger dan GROM, rudal anti pesawat dari AS dan Polandia

Selain itu, persenjataan yang dibutuhkan adalah rudal anti pesawat yang bisa digunakan oleh satu orang, yang dikenal sebagai Sistem Pertahanan Udara Portabel Man atau MANPADS.

Rudal Stinger buatan AS akan dikirim ke Ukraina dari Lithuania dalam beberapa hari mendatang, kata Perdana Menteri Lithuania Ingrida Simonyte hari Kamis (10/02) lalu.

Baca Juga :  Veloz Terbaru sudah ada di Dealer!

Polandia juga memasok Kiev dengan GROM, senjata berpemandu panas serupa Stinger yang dapat menyerang pesawat dari jarak hingga tiga kilometer.

Karena tentara Ukraina sendiri sudah memiliki senjata serupa, mereka dengan mudah bisa mengoperasikan GROM dan Stinger.

“MANPADS ini sangat berguna karena membuat serangan udara Rusia menjadi kurang efektif,” kata analis pertahanan Mykola Bielieskov.

“Jika Anda mengerahkan mereka dalam jumlah besar, Anda tentu tidak akan menembak jatuh setiap jet dan helikopter Rusia. Namun, Rusia harus membayar harga yang mahal untuk sebuah serangan.”

Selain itu, Ukraina telah membeli setidaknya 20 drone Bayraktar TB2 dari Turki dalam beberapa tahun terakhir.

Pesawat tak berawak itu dapat dilengkapi dengan rudal buatan Ukraina. Ukraina juga telah memperoleh lisensi dari Turki, yang juga anggota NATO, untuk memproduksi drone Bayraktar.

Superioritas udara RusiaDrone Bayraktar dari Turki dapat digunakan untuk pengintaian dan dapat dilengkapi dengan bom dan rudal berpemandu laser.

Akhir Oktober 2021, Angkatan Darat Ukraina telah menggunakan Bayraktar untuk menghancurkan artileri kelompok separatis pro-Rusia di timur negara itu.

Namun, dalam hal jumlah dan persenjataan, militer Rusia jelas jauh lebih unggul dari Ukraina. Itu terutama berlaku bagi angkatan udaranya.

“Jika terjadi serangan, Rusia dapat mencapai superioritas udara dalam dua sampai tiga hari,” kata Gustav Gressel, pakar kebijakan keamanan di Komite Eropa untuk Hubungan Luar Negeri yang bermarkas di Berlin.

Rusia tidak hanya memiliki jauh lebih banyak jet tempur, tetapi militernya juga mampu memantau radio, radar pesawat, dan pertahanan udara Ukraina, karena teknologi yang digunakan Ukraina sebagian besar buatan Uni Soviet.

Selain itu, kata Gressel, pilot Ukraina memiliki jam terbang yang jauh lebih sedikit daripada pilot Rusia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Menilik Kekuatan Militer Ukraina”,(Fina/kenali.co.id)