Fenomena Langit Membara di Malang

  • Bagikan
Fenomena
Foto: Tangkapan layar

Kenali.co.id, VIRAL Surabaya – Fenomena langit memerah disertai kepulan asap dan kilat menyambar diduga terjadi di atas pegunungan Welirang-Arjuno. Video ini sempat viral di media sosial hingga para warganet khawatir akan terjadi bencana.

Ada tiga video yang tersebar beragam durasinya. Salah satunya berdurasi 21 detik yang memperlihatkan asap merah disertai kilatan.

Video kedua berdurasi 11 detik yang menampakkan asap putih mirip sebuah gunung meletus. Namun di bawah asap itu banyak kilatan. Lalu video ketiga berdurasi 19 detik memperlihatkan asap dan kilat menyambar-nyambar.

“Sepertinya di atas Pegunungan Welirang, di sisi utara Kota Batu,” kata seorang warga Sidoarjo, Fuad (35) kepada detikcom, Senin (13/12/2021).

Dia menyebut melihat fenomena langit merah tersebut diambil sekitar pukul 19.00 WIB. Dirinya mengaku was-was dan khawatir.

“Semoga tidak terjadi apa-apa Ya Alloh,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Ida (41). Warga Lawang, Malang, ini menyebut melihat fenomena langit merah itu dari rumahnya.

“Merah sekali, Mbranang kata orang sini,” tambahnya.

Menanggapi viral video ini, BMKG buka suara. Ternyata, BMKG menyebut awan merah disertai kilatan tersebut merupakan jenis awan cumulonimbus.

“Untuk penjelasan terkait kilat, itu jenis awan cumulonimbus (CB),” kata Kepala Stasiun Klimatologi Malang Anung Suprayitno.

Anung menjelaskan adanya awan cumulonimbus juga menimbulkan guntur atau petir. Apabila berada dekat dengan pusat awan, maka akan terdengar suara gelegar akibat dari petir yang terjadi.

“Awan cumulonimbus salah satunya menimbulkan guntur atau petir. Jika jaraknya dekat maka akan terdengar gelegarnya dan tampak pula kilatnya,” jelas Anung.

“Namun, jika jaraknya cukup jauh maka yang sampai ke kita hanya kilatnya saja,” sambung Anung.

Sementara Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Juanda Teguh Tri Susanto mengatakan fenomena awan berwarna merah itu merupakan hal yang biasa terjadi.

Hal ini merupakan salah satu contoh fenomena optik atmosfer. Teguh mengatakan warna kemerahan pada awan dan langit di sekitarnya, karena pembiasan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang ada di atmosfer.

Sehingga, pembiasan tersebut menghasilkan energi yang rendah, gelombang panjang, dan memunculkan warna kemerahan. Semakin rendah posisi matahari dari garis cakrawala, maka semakin rendah pula cahaya merah yang dicapai.

“Fenomena langit kemerahan ini biasanya memang terjadi pada sore menjelang malam hari,” kata Teguh.

Teguh mengatakan, pada sore menjelang malam, dari radar BMKG Juanda terpantau banyak pertumbuhan awan Cumulonimbus di sekitar lokasi awan merah itu. Awan Cumulonimbus adalah satu-satunya jenis awan yang dapat menghasilkan petir. Sambaran kilat dari awan ini menambah cahaya kemerahan dari langit tersebut.

“Diharapkan masyarakat agar tidak panik. Tetap selalu memantau dan mencari informasi yang valid sehingga terhindar dari isu-isu yang tidak bertanggung jawab, ” tandas Teguh.


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *