Formula 1 Butuh Pembalap Amerika Serikat

Kenali.co.id, Amerika Serikat – Mantan pembalap IndyCar dan NASCAR, Danica Patrick, mengatakan bahwa F1 membutuhkan pembalap Amerika Serikat untuk meningkatkan reputasi kejuaraan di negeri Paman Sam.

Patrick, bakal meliput Grand Prix Amerika bersama Sky Sports F1/ESPN akhir pekan ini, menilai balap jet darat telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir berkat keberhasilan serial dokumenter “Drive to Survive” di Netflix.

“Saya benar-benar berpikir bahwa seri Netflix Drive to Survive merupakan “hal besar,” ucapnya kepada Motorsport.com.

“Saya memiliki begitu banyak orang selama bertahun-tahun datang kepada saya dan berkata: ‘Hei, apakah Anda sudah menontonnya? Apakah Anda menontonnya? Wow, saya sangat tertarik dengan Formula 1 sekarang.’

“Menurut saya, itu memanusiakan, memberikan (F1) alur cerita. Ini adalah cara untuk benar-benar mencoba dan memahami apa yang terjadi dalam kejuaraan.”

Serial dokumenter “Drive to Survive” di Netflix merupakan bagian dari upaya ekspansi yang dilakukan Liberty Media untuk meningkatkan jangkauan Formula 1 di Amerika Utara.

Musim depan, F1 bakal memiliki dua balapan di AS. Grand Prix Miami bergabung dengan lomba di Austin. Bahkan, saat ini tengah ada pembicaraan tentang penambahan menjadi tiga seri.

Ditanya apa yang dibutuhkan Formula 1 dalam hal popularitas, Patrick percaya kejuaraan butuh pembalap Amerika yang kompetitif, guna memberi lebih banyak alasan kepada para penggemar untuk menonton balapan.

“Jika ada pembalap Amerika yang bisa mereka dukung, maka saya pikir apa yang akan Anda lihat adalah lebih banyak liputan di sini,” ujarnya.

“Apakah Anda tahu, program TV larut malam, berita pagi, hanya liputan olahraga secara umum. (Jika ada pembalap Amerika), maka akan ada alasan untuk meliputnya, dan saya pikir itu pasti bakal membantu.”

Baca Juga :  Strategi Rahasia! Shin Tae-yong Minta Indonesia U-23 vs Tajikistan U-23 Digelar Tertutup Tanpa Televisi

Pembalap IndyCar, Colton Herta, kini kerap disebut dan dikaitkan dengan Formula 1. Tak sedikit yang menilai bahwa pemuda berusia 21 tahun itu punya potensi lebih serta pantas diberikan kesempatan.

Herta menjadi pemenang balapan IndyCar termuda pada usia 19 tahun. Sejak saat itu, dia tumbuh menjadi salah satu pesaing utama di kejuaraan bersama Andretti Autosport.

Berbagai sumber menyebutkan, Michael Andretti tinggal sedikit lagi mengambil alih saham mayoritas Alfa Romeo, yang mana akan menjadikan Andretti Autosport sebagai tim balap asal AS kedua di grid setelah Haas.

Dengan berekspansi ke Formula 1, sekaligus membawa Herta ke jalur yang jelas untuk kembali ke Eropa. Sang pembalap pernah menghabiskan musim 2016 di berbagai kejuaraan Formula 3 dengan Carlin.

“Tentu saja, jika itu adalah sesuatu yang ingin Anda lakukan dan Anda merasa punya kesempatan untuk melakukannya dengan baik, maksud saya, dia tidak akan menjadi pembalap yang lebih buruk ketika dia pergi,” tutur Patrick.

“Jika itu tidak berhasil untuknya, biasanya pembalap Formula 1 memiliki sedikit kredibilitas untuk mencoba dan datang serta mengemudikan IndyCar.

“Jadi, saya kira ini adalah kesempatan yang sangat bagus, dan terutama jika itu adalah sesuatu yang sangat dia sukai. Menurut saya, itu sangat keren.

“Dan agar semuanya Amerika, saya pikir itu bagus. Saya ingin melihat bagaimana kelanjutannya.” (Naufal/Kenali.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *