HEADLINE: Berebut Dukungan dan Suara Nahdliyin di Pilpres 2024, Siapa Diuntungkan?

HEADLINE: Berebut Dukungan dan Suara Nahdliyin di Pilpres 2024, Siapa Diuntungkan?

KENALI.CO.ID – Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia masih menjadi magnet bagi para pemburu suara. Pada ajang pemilihan presiden, basis massa NU selalu jadi incaran.

Para kandidat capres rajin mendatangi kantong-kantong suara NU, khususnya pesantren. Bahkan mereka mendadak jadi ‘santri’, dengan harapan bisa mendulang sebanyak-banyaknya dukungan dari kalangan nahdliyin–sebutan bagi warga NU.

Memiliki cawapres yang berasal dari NU juga menjadi modal besar untuk memenangkan pertarungan. Apalagi sosok cawapres itu merupakan tokoh berpengaruh di kalangan warga NU.

“Ya sangat besar pengaruhnya (suara nahdliyin), sangat laku lah kalau pemilihan langsung. Dikira-kira, dari jumlah rakyat Indonesia, kalangan NU itu ada 54 sampai 60 persen. Tentu ini menjadi bargaining tinggi bagi NU, dan itu bisa menentukan dalam konteks pemenangan pasangan capres dan cawapres. Jadi rebutan suaranya,” kata pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia.

Walaupun pada kenyataannya, pada setiap ajang pemilihan umum, suara nahdliyin menyebar ke mana-mana. Misalkan PKB. Partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar itu merupakan partai asli Nahdlatul Ulama. Namun dalam perolehan suara, PKB hanya memperoleh sekitar 13,57 juta suara (9,69 persen). Artinya, tidak semua nahdliyin memilih PKB, karena mereka tersebar ke berbagai partai politik.

 

Berebut Dukungan dan Suara Nahdliyin

Di setiap pemilu, sejumlah tokoh NU juga kerap menghiasi daftar bakal cawapres. Pada pilpres 2024, beberapa nama tokoh NU masuk dalam daftar, sebut saja Mahfud Md, Yenny Wahid, dan Khofifah Indar Parawansa.

“Kalau kita bicara trah nahdliyin banget ya, itu ada Yenny Wahid, ada Khofifah, lalu ada Mahfud Md. Itu nahdliyin. Kalau Erick Thohir kan di-nahdliyinkan. Tapi kalau kita bicara trah nahdliyin, garis nahdliyin, tokoh nahdliyin, figur nahdliyin, itu ada di Yenny Wahid, Khofifah, Mahfd Md, yang kuat dalam konteks darah biru NU-nya,” ujar Ujang.

Anies Baswedan malah lebih dulu menetapkan cawapresnya yang berasal dari NU yakni Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Berdarah murni NU dan kedekatannya dengan para ulama, Cak Imin diharapkan bisa menarik suara dari kalangan nahdliyin sebanyak-banyaknya, terutama di Jawa tengah dan Jawa Timur.

Saat ini tinggal Prabowo dan Ganjar Pranowo yang masih harus mencari figur cawapres. Nama-nama kandidat dari kalangan NU tentu jadi pertimbangan yang diharapkan bisa mendulang suara sekaligus penentu kemenangan dalam pilpres nanti.

Kata Ujang, kalaupun tidak jadi cawapres, tokoh-tokoh NU berpengaruh bisa dirangkul menjadi ketua tim sukses.

“Kalau di Ganjar sudah ada ketua tim suksesnya. Kalau di Prabowo Subianto kita lihat nanti apakah cawapresnya dari NU atau tim suksesnya dari NU. Yang penting ada tokoh NU-nya, untuk mendapatkan suara dari kalangan NU grasroot,” tuturnya.

Baca Juga :  Gali Potensi Desa, Kepala BSKDN: Kinerja Perangkat Desa Harus Terus Ditingkatkan

“Siapa capres yang diuntungkan? Saat ini masih diuntungkan semuanya. Semuanya masih pasar bebas. Semuanya masih mencari dukungan dari kalangan nahdliyin,” kata Ujang.

Pengaruh Besar Kiai NU

Samina wa athona memiliki arti, kami dengar dan kami patuh. Ungkapan ini merupakan potongan ayat 51 dalam Alquran Surat An-Nur. Ayat tersebut menyatakan bahwa orang-orang mukmin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan mendapat keberuntungan.

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata: Kami mendengar dan kami patuh (taat). Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. an-Nur ayat 51)

Samina wa athona adalah bentuk kepatuhan dan loyalitas yang berlandaskan pada iman dan takwa. Karakter seseorang yang memiliki sikap samina wa athona ditandai dengan kesetiaan mereka dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah SWT adalah Mahabenar dan tidak pernah salah.

Dalam konteks kepemimpinan di kalangan pesantren NU, ungkapan samina wa athona menjadi model. Kepemimpinan spiritual kiai di kalangan pesantren NU sudah menjadi dasar. Kiai memiliki pengaruh sangat besar di kalangan pesantren NU. Termasuk dalam hal memilih di pemilu.

“Sangat besar ya pengaruh kiai NU. Kita kenal ada istilah samina wa athona, kami mendengar dan kami taat. Artinya, pola pemilih santri itu, pemilih nahdliyin itu, biasanya ikut apa kata kiainya. Ikut kepentingan pesantrennya, ikut ustaznya,” kata Ujang.

“Ketika kiainya memilih pasangan capres-cawapres A, maka santri-santrinya memilih pasangan A. Ketika kiainya memilih pasangan capres-cawapres C, maka santri-santrinya akan memilih pasangan C. Sampai segitunya samina wa athona itu. Jadi pengaruh kiai itu besar dalam konteks di budaya NU,” Ujang menambahkan.

Keluarga Gus Dur dan Yenny Wahid Jadi Magnet

Bakal calon presiden belakangan ini bergantian sowan ke keluarga Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ganjar dan Prabowo sudah sowan ke keluarga Gus Dur. Mereka menemui istri Gus Dur, Sinta Nuriyah dan sang putri, Yenny Wahid. Berharap dukungan dari keluarga besar NU dan Gusdurian.

Nama Yenny Wahid belakangan masuk radar PDIP untuk dipasangkan dengan Ganjar Pranowo. Yenny juga digadang-gadang layak jadi cawapres Prabowo Subianto. Kuatnya pengaruh keluarga Gus Dur menjadi alasan Ganjar dan Prabowo mempertimbangkan nama Yenny Wahid.

“Bisa jadi Yenny Wahid jadi cawapresnya Prabowo atau tim suksesnya Prabowo. Atau bisa jadi cawapresnya Ganjar Pranowo. Mungkin-mungkin saja, karena darah NU Yenny sangat kental, sangat bagus, maka peluang menjadi cawapres sangat besar,” kata Ujang.

Baca Juga :  Pj Wali Kota Sri Purwaningsih Dibebankan Tugas Soal Stunting, inflasi dan Kesuksesa Pemilu 2024.

Meski demikian, Ujang belum bisa membaca Yenny Wahid akan merapat ke mana, Prabowo atau Ganjar. Pastinya, Yenny tidak akan mendukung Anies karena berpasangan dengan Cak Imin, yang di anggap sebagai musuh politik.

“Yenny Wahid merapat ke mana, yang pasti tidak ke Anies ya. Karena Yenny Wahid sedang tidak bagus hubungannya dengan Cak Imin. Kemungkinan ke Prabowo atau Ganjar,” kata Ujang.

 

Berebut Dukungan dan Suara Nahdliyin

Pengamat politik M. Riza Widiyarsa menilai pertemuan Prabowo dengan Yenny di kediaman Prabowo pada Rabu, 6 September 2023, sebagai bentuk respons dari perginya PKB dari Koalisi Indonesia Maju.

Menurut Riza, hengkangnya PKB dari Koalisi Indonesia Maju menjadi kerugian bagi Prabowo. Sebab, potensi mendulang suara di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi sulit. Oleh karena itu, potensi ini akan di jaga oleh Prabowo. Salah satunya dengan menggandeng Yenny Wahid dan keluarga Gus Dur.

“Menurut berbagai survei, dalam pilpres 2024 akan ada 38 juta warga NU yang punya hak pilih,” ujar Riza dalam keterangannya, Kamis, 7 September 2023.

Capres dari PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo, juga sebelumnya telah bertemu dengan Yenny Wahid dan sang ibu, Sinta Nuriyah. Ganjar bahkan berkelakar ingin “mengajak” Yenny Wahid.

Ganjar tiba di kediaman rumah keluarga Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu malam, 13 Agustus 2023.

Kedatangan Ganjar pun turut di sambut hangat oleh istri Gus Dur Sinta Nuriyah yang di temani anaknya, Yenny Wahid.

Ketiganya berbincang sambil di temani teh hangat lalu di lanjutkan dengan jamuan makan malam.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai strategi politik Ganjar Pranowo yang mendekati keluarga Gus Dur, merupakan langkah politik yang canggih.

“Mendekati basis massa NU, yang terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Hampir 50 persen orang Indonesia dekat dengan NU, di saat yang sama Ibu Sinta dan Mbak Yenny salah satu reprentasi simbolik yang sangat krusial bagi warga NU,” kata Burhanuddin Muhtadi dalam acara bertajuk, Bertemu Ganjar, Yenny: Kami Punya Kedekatan, Kompas TV, Senin, 14 September 2023.

“Bukan hanya representasi partai politik yang di dekati Mas Ganjar atau PDIP, tapi representasi organisasi krusial yang mungkin tidak merupakan representasi politk formal tapi representasi umat Islam yang besar,” ujar Burhanuddin.

Jangan Seret-seret NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf meminta bakal calon presiden dan calon wakil presiden tidak mengatasnamakan Nahdlatul Ulama dalam pemilihan presiden 2024.

Baca Juga :  Yenny Wahid Dinilai Beri Isyarat Dukung Prabowo Subianto di Pilpres 2024, Sebut Pemimpin Berkelas

Pernyataan itu di sampaikan Gus Yahya, sapaan akrabnya, tak lama setelah deklarasi Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar di Hotel Majapahit, Surabaya, Sabtu, 2 September 2023

“Jangan ada calon mengatasnamakan NU. Kalau ada calon mengatasnamakan (NU), kredibilitasnya atas nama perilakunya sendiri-sendiri, bukan atas nama NU,” ujar Gus Yahya, Sabtu, 2 September 2023.

Gus Yahya menjelaskan, secara struktural NU maupun kiai-kiai NU juga tidak akan memberikan dukungan kepada calon tertentu.

“Kalau ada klaim, kiai-kiai NU merestui, itu sama sekali tidak betul. Selama ini tidak ada pembicaraan terkait calon presiden atau wakil presiden,” kata Gus Yahya, di kutip Antara.

 

Berebut Dukungan dan Suara Nahdliyin

Kalaupun ada warga NU yang ingin mencalonkan diri, Gus Yahya mempersilakan untuk bisa berjuang lewat partai politik, bukan lewat NU. “Orang tahu NU ini punya warga banyak sekali. Survei Alvara 52,9 persen populasi muslim Indonesia mengaku NU,” jelas Gus Yahya.

Menurutnya, warga NU sangat cerdas sehingga tidak bisa lagi di tarik-tarik untuk memenuhi ambisi calon tertentu.

“Pola pikir NU ini dulu di anggap kayak kebo (kerbau). Ini menghina sekali, padahal warga NU ini sudah cerdas, mereka sudah bisa menilai orang. Kami tidak mau NU ini di cocok-cocok hidungnya di bawa ke sana ke mari,” tambahnya.

Gus Yahya juga memastikan bahwa keputusan Muktamar NU sebagai lembaga tidak akan ikut dukung mendukung dan juga tidak akan jadi kompetitor dalam politik.

Pengamat politik Ujang Komaruddin menilai, pernyataan Ketua Umum PBNU itu di tujukan untuk Cak Imin agar tidak membawa nama-nama, simbol-simbol NU ke PKB dan pencalonannya sebagai wakil presiden.

“Karena saat ini PBNU dan PKB adalah pihak yang berlawanan, pihak yang berbeda. Secara politik tidak ketemu,” kata Ujang.

“Kalau nanti arah dukungan PBNU ke mana, ya kita lihat saja nanti. Tetap saja dukung mendukung. Tetap saja punya kepentingan. Mungkin bermainnya nanti, tidak dari sekarang. Yang jelas simbolnya tidak di gunakan dulu oleh PKB, maka suara dukungan PBNU nantinya ya kita lihat saja,” Ujang menambahkan.

 

(*WAHYU/KENALI.CO.ID)