Jadi Tuan Rumah COP 4.2, RI Komitmen Hapus Merkuri pada 2030

  • Bagikan

Kenali.co.id,-JAKARTA – Pemerintah berkomitmen untuk secara bertahap mengurangi dan menghapuskan penggunaan air raksa atau merkuri di Indonesia pada tahun 2030 mendatang.

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, penghapusan penggunaan bahan kimia tersebut dilakukan dalam rangka melindungi kesehatan masyarakat dan keselamatan lingkungan hidup dari cemaran bahan berbahaya.

Rosa yang juga menjabat Presiden COP-4.1 Minamata

Dia menyebutkan empat fokus kegiatan penggunaan merkuri di bidang manufaktur, energi, kesehatan dan penambangan emas dalam skala kecil yang akan dilakukan penertiban.

“Empat jenis kegiatan itu yang Insha Allah akan kita hapuskan penggunaan merkurinya dan pada tahun 2030 kami berkomitmen tidak menemukan merkuri dan sudah meninggalkan pada tahun tersebut,” tegas Rosa dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (6/11/2021).

Dia mengatakan langkah yang akan dilakukan dengan mendorong pengawasan atas penggunaan alat kesehatan yang selama ini masih menggunakan merkuri.

“Misalnya tensimeter, termometer dan amalgam, itu semua sudah ditarik oleh Kementerian Kesehatan, dan untuk penambangan emas skala kecil juga sudah tidak pakai lagi,” ungkapnya.

Sedangkan untuk sektor manufaktur dan energi, menurut Rosa para pelaku usaha telah melakukan perencanaan untuk mengurangi penggunaan merkuri secara bertahap.

Sementara itu, sejalan dengan upaya pengurangan dan penghapusan penggunaan merkuri, Indonesia terpilih sebagai tuan rumah sidang The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP 4.2) Konvensi Minamata di Bali pada Maret 2022 mendatang.

Menurut Rosa, terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah merupakan wujud pengakuan dunia serta mengukuhkan kepemimpinan Indonesia dalam memainkan peran sentral diplomasi lingkungan hidup global.

Rosa menyebutkan untuk konferensi COP ini dilakukan dua kali yaitu COP 4.1 dilakukan secara daring pada November 2021 dan tatap muka pada Maret 2022 di Bali yang diharapkan bisa menghasilkan kesepakatan yang lebih besar.

“Kami telah melakukan berbagai Koordinasi untuk kesiapan COP 4.2 di Bali, termasuk bandara internasional Bali bagaimana dalam menerima tamu dan kalau kemarin dilaksanakan secara virtual sekarang hybrid dan tatap muka,” ujarnya.

Momentum Konvensi Minamata ini dapat menjadi peluang besar Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara berkaitan dengan pengurangan dan penghapusan penggunaan merkuri.(Riani/Kenali.co.id)


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *