Peraih Nilai Tertinggi Seleksi Perangkat Desa Dikalahkan

  • Bagikan
Seleksi
Surat terbuka peserta seleksi perangkat desa dengan nilai tertinggi yang kalah dengan anak kades, Karanganyar. (Foto: Tangkapan layar IG @widyayu_sky)

Kenali.co.id, VIRAL Karanganyar – Surat terbuka seorang peserta seleksi perangkat Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, viral di media sosial. Peserta bernama Eka Widyayu Wardani tersebut mencurahkan keluhannya yang mendapat nilai tertinggi dalam seleksi perangkat desa, namun kalah dengan anak menantu kepala desa (kades) yang nilainya jauh di bawahnya.

Surat terbuka ini dibagikan Eka di akun Instagram @widyayu_sky. Dalam postingannya, Eka mengunggah foto hasil seleksi tertulis perangkat desa yang menunjukkan dirinya mendapatkan mendapatkan nilai tertinggi.

Jumat (17/12) pukul 12.40 WIB, postingan tersebut mendapatkan 2.753 suka dan dikomentari 2.192 kali. Postingan ini juga diunggah ulang oleh banyak akun Instagram lain.

“Iya, betul @widyayu_sky adalah akun pribadi saya. Iya silakan (dikutip),” ujar Eka saat dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (17/12).

Dalam postingan tersebut, Eka menceritakan dirinya yang mendaftar dalam perekrutan perangkat desa sebagai kepala seksi (kasi) pemerintahan.

“Saya ingin mempertanyakan mengenai proses perekrutan perangkat desa karena saya merasa ada hal yang aneh dari hasil pemilihan,” tulis Eka.

“Saya melakukan pendaftaran, melengkapi berkas, mengikuti ujian dan mendapatkan nilai akhir tertinggi di tes. Tapi kenapa yang terpilih itu malah peserta yg nilainya jauh di bawah saya dan peserta yg terpilih itu ANAK KEPALA DESA sendiri?” imbuhnya.

Eka mempertanyakan urgensi adanya seleksi jika akhirnya akan dimenangkan oleh anak kades. Selain itu, biaya ujian yang dibebankan ke anggaran desa disebutnya menjadi pemborosan.

“Kalau ujung-ujungnya anaknya sendiri kenapa harus ada tes bukannya itu termasuk pemborosan anggaran desa? Karena info yang saya dapat, untuk mengikuti tes dengan pihak ketiga, mengeluarkan biaya Rp 800.000,00/peserta dan itu diambil dari uang belanja desa,” beber Eka.

Untuk diketahui, Eka Widyayu Wardani dalam tes seleksi itu mendapatkan nilai 73,92, sedangkan calon terpilih yakni Joko Sujiyanto meraih nilai 60,55. Total ada tujuh orang yang lolos seleksi tersebut, dengan nilai tertinggi diraih Eka Widyayu.

Viralnya surat terbuka tersebut membuat Pemkab Karanganyar memanggil Kades Plumbon Suwaji, Camat Tawangmangu Agus Dwitanto dan panitia seleksi perangkat desa. Mereka diminta klarifikasi oleh tim penyelesaian permasalahan perangkat desa.

“Hari ini tim penyelesaian permasalahan perdes memanggil kades, panitia desa dan camat. Maksud dan tujuannya adalah klarifikasi sebenarnya apa yang terjadi pada agenda pengisian perdes tersebut,” kata Kepala Inspektorat Pemkab Karanganyar, Suprapto, kepada wartawan, Jumat (17/12).

Suprapto menerangkan secara regulasi tidak ada ketentuan peraih nilai tertinggi dijamin menjadi calon terpilih. Dia merujuk pada Perbup 77 tahun 2019 tentang Perangkat Desa, tertulis jika calon yang lolos tes lebih dari satu orang, wewenang rekomendasi diserahkan kepada kepala desa.

“Kalau di perbup secara tertulis memang tidak ada penyebutan itu (ranking satu pasti terpilih). Jadi kan prosesnya dimulai dari pendaftaran kemudian dilanjutkan tes tertulis,” terangnya.

“Kemudian sudah ada hasilnya ada 7 orang yang dinyatakan lulus untuk diserahkan kepada kades. Kemudian kades mengajukan usul kepada camat dan camat memberikan rekomendasi kepada kades untuk mengangkat dari (calon) yang diusulkan itu,” imbuh Suprapto.

Saat diklarifikasi, lanjut Suprapto, Kades Plumbon Suwaji mengaku memilih anak menantunya sebagai kepala seksi pemerintahan. Suwaji beralasan memilih anak menantunya tersebut dengan alasan berpengalaman.

“Saudara Joko (peserta terpilih) ini menantu dari kades,” terangnya.

“Kades pertimbangannya disampaikan, yang bersangkutan pernah bekerja di luar negeri sehingga dia berpengalaman untuk bisa membantu desa melaksanakan pekerjaan-pekerjaan di desa,” kata Kepala Inspektorat Pemkab Karanganyar, Suprapto, kepada wartawan, Jumat (17/12).

“(Alasan) Kedua, dia (calon terpilih) sudah bekerja dan berperilaku baik dan diharapkan bisa memberikan kontribusi yang positif kepada pemerintah desa. Itu alasan kades,” imbuhnya.

Meski begitu, Suprapto belum menjelaskan hasil penyelesaian polemik ini. Dia menyebut hasil klarifikasi nantinya akan dianalisis oleh tim penyelesaian permasalahan perangkat desa.

“Kita kan ditugasi bupati untuk menelusuri permasalahan ini seperti apa. Baru setelah ini dianalisa,” terang dia.

Sementara itu Bupati Karanganyar Juliyatmono turut angkat bicara terkait polemik ini. Menurutnya, meski tak tertulis secara gamblang di perbup, semestinya seleksi tetap mengutamakan calon dengan nilai terbaik.

“Filosofinya namanya seleksi itu pasti juga harus memperlihatkan siapa yang terbaik dari hasil tes seleksi melalui komputer yang terbuka, yang semua orang tahu,” ujar Juli sapaannya, kepada wartawan di Karanganyar, Jumat (17/12).

Juli pun menerangkan soal aturan dalam perbup ini. Menurutnya kades bisa mengusulkan dua dari beberapa calon yang memenuhi kriteria lolos seleksi.

“Nah kenapa perbup memberikan alternatif kalau minimal dua yang lulus atau lebih dari dua, itu boleh memilih. Boleh memilih itu sebetulnya alternatif jika calon-calon yang terbaik urutan itu berhalangan,” terang dia.

Pemilihan calon yang direkomendasi kades ini, lanjutnya, seharusnya tetap memperhatikan hasil seleksi. Juli menyebut perbup sudah memberikan rambu-rambu terkait hal ini.

“Supaya kalau pas hari itu kena musibah semuanya, masih ada yang dipilih, begitu lho. Kalau tidak berhalangan, tolong diperhatikan, camat sudah saya pegangi rambu-rambu. Berikan yang terbaik yang direkomendasi,” urainya.

“Kalau (calon dengan nilai terbaik) tidak diusulkan oleh kades, ya ditolak. Berarti tidak menghargai ilmu pengetahuan, tidak menghormati proses seleksi,” tegas Juli.

Juli meminta proses seleksi memperhatikan kemampuan akademik calon perangkat desa. Untuk alasan Kades Plumbon Suwaji yang memilih anak menantunya dengan alasan lebih berpengalaman, dinilainya tidak relevan.

“Hasil seleksi itu lebih ke persoalan akademik, yang nilainya bagus. Soal pengalaman atau tidak, itu pasti akan berproses bagaimana waktu berjalan. Karena semua orang pasti akan ditempa, diperkaya pengalaman kalau sudah melaksanakan tugas,” terangnya

Di sisi lain, Juli mempersilakan jika ada pihak yang merasa dirugikan untuk melakukan gugatan ke Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Pihaknya yakin di PTUN keabsahan proses seleksi perangkat desa tersebut akan diuji.

“Kalau ada gugatan PTUN kan diuji keabsahan dari keputusan itu. Kalau ada pihak-pihak yang merasa dirugikan kan melalui PTUN. Prosesnya di perbup-nya begitu,” jelasnya. (Dhea/Kenali.co.id)


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *