Puan Desak Pemerintah Tegas Usir Kapal Asing dari Laut Natuna

  • Bagikan
Kapal Coast Guard China-5302 memotong haluan KRI Usman Harun-359 pada jarak 60 yards (sekitar 55 meter) saat melaksanakan patroli mendekati kapal nelayan pukat China yang melakukan penangkapan ikan di ZEE Indonesia Utara Pulau Natuna, Sabtu (11/1/2020). Dalam patroli tersebut KRI Usman Harun-359 bersama KRI Jhon Lie-358 dan KRI Karel Satsuitubun-356 melakukan patroli dan bertemu enam kapal Coast Guard China, satu kapal pengawas perikanan China, dan 49 kapal nelayan pukat asing. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/pd.

Kenali.co.id, Jakarta – Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah serius dalam menangani pelanggaran kedaulatan negara di Natuna yang sering terjadi. Pernyataan ini disampaikan usai Badan Keamanan Laut (Bakamla) mengatakan sejak Agustus 2021 ada ribuan kapal asing yang terdeteksi di Laut Natuna Utara.

“Pemerintah tidak bisa berdiam diri saat negara lain memasuki wilayah NKRI tanpa izin. Indonesia harus mampu menjaga kedaulatan, karena ini menyangkut harga diri bangsa,” kata Puan Maharani dikutip dari ANTARA, Kamis (16/9/2021).

Bakamla sebelumnya menyampaikan ada kapal asing berada di dekat pengeboran minyak lepas pantai Laut Natuna Utara. Tidak hanya kapal coast guard dan kapal perang China, ada juga kapal-kapal Vietnam yang ingin mengambil ikan di perairan Natuna.

1. Nelayan Indonesia takut melaut di Natuna karena kapal asing

Puan menilai kehadiran kapal-kapal asing di perairan Natuna mengakibatkan nelayan Indonesia takut untuk melaut. Ia pun meminta komitmen serius dari pemerintah mengatasi permasalahan tersebut.

“Apalagi akibat China mengirimkan kapal perang ke perairan Natuna, masyarakat nelayan kita jadi takut melaut. Maka harus ada upaya tegas untuk mengusir kapal-kapal China di wilayah Indonesia,” kata Puan.

2. Indonesia kerahkan lima kapal angkatan laut dibantu patroli udara

Terpisah, Panglima Komando Armada Barat I Laksamana Muda Arsyad Abdullah mengatakan telah mengerahkan lima kapal angkatan laut di Laut Natuna Utara. Dikutip dari Reuters, kata dia, pengamanan juga dibantu patroli udara.

“Posisi TNI AL di Laut Natuna Utara sangat tegas dalam melindungi kepentingan nasional di wilayah hukum Indonesia sesuai dengan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi sehingga tidak ada toleransi terhadap setiap pelanggaran di Laut Natuna Utara,” kata Arsyad.

Ia mengatakan kapal-kapal angkatan laut AS dan China telah terdeteksi di dekat laut Natuna baru-baru ini. Tetapi, kapal tersebut tidak mengganggu karena masih berada di perairan internasional.

3. Bakamla kesulitan usir kapal asing

Sebelumnya, Sekretaris Utama Bakamla Laksamana Muda S Irawan mengeluhkan banyaknya kapal asing dari Vietnam dan China yang wara-wiri di perairan Natuna. Khususnya, di area yang tumpang tindih dengan klaim China di Laut China Selatan.

Ia mengatakan dari pantauan radar hanya ada sekitar enam kapal asing berasal dari Vietnam dan China yang lalu-lalang. Kapal China yang bolak-balik masuk ke Laut Natuna merupakan penjaga pantai.

“Tetapi, bila dilihat secara kasat mata atau langsung dengan pengamatan dari udara, itu mungkin ada ratusan, bahkan ribuan kapal berada di sana. Ini diperkuat dengan keterangan dari KSAL ketika melakukan RDP yang membahas mengenai RUU Landas Kontinen,” ungkap Irawan ketika menggelar rapat kerja dengan komisi I DPR dan dikutip dari kanal YouTube pada Selasa (14/9/2021).

Ia menjelaskan Bakamla sulit mengusir kapal-kapal asing tersebut karena tidak memiliki peralatan untuk memantau dari udara. (Naufal/Kenali.co.id)


GOLD POINT JAMBI
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *