Tak Seperti Delta, Pakar Ungkap Durasi Pemulihan Omicron

omicron
Ilustrasi varian Omicron. (dimas/kenali.co.id)

Kenali.co.id, NASIONAL – Kasus COVID-19 kembali memecahkan rekor dengan mencapai penambahan 27 ribu kasus dalam sehari. Kondisi ini berbeda jauh dibanding sebelum munculnya varian Omicron di Indonesia pada akhir tahun 2021 lalu.

Pandemi belum selesai. Sementara itu, masyarakat semakin banyak aktivitas di luar untuk bekerja, pendidikan dengan tatap muka, bertemu keluarga, rekreasi, dan lain-lain. Protokol kesehatan (Prokes) mulai terlihat kendur. Penggunaan masker di tempat umum terlihat tidak sebaik sebelumnya. Meskipun sudah divaksinasi, sebaiknya tetap waspada dan menjaga protokol kesehatan sesuai anjuran.

Omicron

Dokter Spesialis Penyakit paru dari RSUP Persahabatan Dr.dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) mengatakan, sejak awal januari 2022, terjadi perkembangan yang signifikan. Di awal tahun masih di bawah 200 kasus. Kemudian, meningkat hingga ribuan. Kematian akibat Omicron juga sudah dilaporkan.

Omicron ini adalah salah satu varian dari COVID-19. Salah satu karakteristik yang harus diketahui dari Omicorn adalah Omicron ini sangat mudah menular dibandingkan Delta, terlihat dari angka peningkatan kasus harian yang sangat cepat. Namun diakui dokter Erlina, masa pemulihannya bisa lebih singkat dibanding Delta.

“Omicron gejala ringan-ringan saja. Dibandingkan Delta, bisa batuk berkepanjangan bahkan sesak napas. Omicron karena gejala ringan pemulihan lebih cepat. 5-7 hari sudah pulih dan negatif,” kata dokter Erlina dalam acara virtual bersama SOHO, Kamis 3 Februari 2022.

Akan tetapi, Erlina menegaskan bahwa aturan isolasi mandiri belum berubah dengan pedoman seperti pada varian sebelumnya. Meski sudah negatif dan tak bergejala, Erlina tetap menganjurkan isolasi mandiri selama 10 hari.

“Tapi tetap saja acuan pedoman kalau terkonfirmasi delta atau omicron, kalau hanya tanpa gejala masa isolasi tetap 10 hari. Dengan gejala, maka isolasi selesai 10 hari tambah 3 hari bebas gejala,” pungkasnya.

Baca Juga :  Diperiksa 12 Jam, PC Sambo Tetap Konsisten Sebagai Korban Kekerasan Seksual

Lansia dan Balita

Ia menjelaskan, kalau sebelumnya, di pertengahan Desember, kasus Omicron merupakan imported cases, yang dibawa dari orang luar negeri atau Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN). Tetapi, setelah berlangsungnya waktu, sekarang sudah terjadi penularan di komunitas. Diduga penularan di komunitas sudah lebih dari 20 persen.

“Asumsi saya, kalau dilakukan pemeriksaan, sebagian besar kasus yang terjadi di Indonesia sudah Omicron,” kata dr. Erlina.

Untuk kelompok tertentu, contohnya orang lanjut usia, anak-anak balita yang belum divaksin, orang kormobid (penyakit bawaan yang kronis dan tidak terkendali) menjadi tidak gejala ringan lagi, sehingga perlu dirawat di Rumah Sakit. Dengan sistem imun yang turun, orang-orang dengan kelompok itu mudah sekali tertular. Apalagi, mereka yang lansia sekaligus kormobid, ditambah lagi tidak divaksinasi.

“Jangan terlalu meremehkan, karena ada kelompok-kelompok yang rentan yang harus kita lindungi,” papar dr. Erlina.

Erlina menegaskan agar perlu ditingkatkan lagi protokol kesehatan. Selain itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, seperti makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Selain itu, konsumsi suplemen imunomodulator dan vitamin dapat dipertimbangkan untuk membantu meningkatkan imunitas. Jika memungkinkan, sediaan 1 kali sehari kombinasi vitamin dan imunomodulator akan lebih praktis bagi masyarakat. (Dimas/Kenali.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *